Quqiz yang telah pergi…
September 25, 2008
boendafaliq
Hari Rabu 24 Sept 2008, menjadi hari tak terlupakan bagi keluarga kecil kami. Hari itu kami kehilangan “anggota keluarga” yang belum setahun ikut hidup di rumah kecil kami. Waktu anak-anak meminta dan memohon untuk “mengadopsi”nya, aku luluh dan akhirnya mengizinkan dia jadi anggota keluargaku. Anak-anak kemudian memberinya nama Quqiz, kaya kue ya, makanya nulisnya QUQIZ biar beda dengan cookies. Hari-hari memang semakin berwarna sejak Quqiz di rumah, badannya yang ringkih pelan-pelan jadi kuat dan besar, seminggu sekali rutin dimandikan oleh si teteh biasanya rebutan sm ade untuk memandikan dan mengeringkannya dengan hairdyer.
Quqiz benar-benar menjelma menjadi mahluk lucu kesayangan kami. Tingkahnya yang centil, suka caper pada tamu yang datang ke rumah, punya posisi yang lucu kalau lagi tidur, suka ikut kemana aku pergi sambil menjilat-jilat atau menggigit sayang betisku kalau lapar…quqiz juga suka lebay dengan berputar-putar mengejar ekornya sendiri…hehehe
Tiga hari yang lalu, tanpa sebab yang jelas, Quqiz ga mau makan. Kerjanya cuma diem dan tidur. Kami pikir dia mules atau kelelahan karena over activity, makanya Quqiz cuma tiduran. Anehnya, hari selanjutnya Quqiz bukannya sembuh, malah semakin pendiam, dipanggil pun quqiz cuma diam. Naas nya, dalam kondisi ga sehat Quqiz maen ke luar rumah dan sorenya ditemukan oleh si teteh basah kuyup dan kotor, disiiram atau tak sengaja disiram oleh marbot masjid dekat rumahku. Dengan sayang kami memandikannya, mengeringkan dan mencoba memberinya susu…sayangnya Quqiz susu itu malah dimuntahkan kembali…duuh ada apa dengan Quqiz, ya ?
Besoknya, Quqiz makin lemah…kami mencari dokter yang praktek pagi, tapi yang dekat rumah praktek jam 4 sore. Anak-anak pergi sekolah dengan was-was, akupun begitu. Pulang tadarus di masjid, kondisi Quqiz udah semakin menghawatirkan. Aku bacakan surat Al Fatihah agar Quqiz kuat menanti jam 4 sore karena kami akan membawanya ke dokter. Saat itu aku sudah mulai menangis melihat Quqiz, rasanya sedang mendampingi anakku yang sakit…kuelus kepalanya sambil berdoa, matanya terpejam seperti menahan sakit dan ooo…hidungnya mengeluarkan tetes-tetes darah…aku semakin sedih tapi pasrah.
Jam 15 aku dan ade ke dapur untuk mulai memasak untuk buka puasa, kami mencari Quqiz yang terakhir aku simpan di kamar ade…Quqiz ga ada. saat itulah si teteh pulang dari sekolah dan mendapati Quqiz terbaring kaku di dapur….Innalilahi waina ilaihi rojiun…kami bertiga pun larut dalam tangis…Ah Quqiz, maafkan kami karena kami terlambat membawamu ke dokter, kami terlambat mengetahui penyebab sakitmu…selamat jalan Quqiz, semoga kau bersama Sang Penciptamu di surga yang indah…
Entry Filed under: Uncategorized
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
Ebo Caracas Thea | Oktober 6, 2008 at 5:05 am
Turut berduka cita, tapi ngomong ngomong QUQIZ itu siapa? mahluk apa?, kalau dirumahku mahluk yang lucu dan suka jilat jilat kakiku dan sering kali mau keinjek itu kelinci yang dibiarkan bekeliaran dalam rumah he he
2.
Ebo Caracas Thea | Oktober 6, 2008 at 6:58 am
Turut berduka cita, tapi ngomong ngomong QUQIZ itu siapa? mahluk apa?, kalau dirumahku mahluk yang lucu dan suka main dikakiku dan sering kali mau keinjek itu kelinci yang dibiarkan bekeliaran dalam rumah he he
3.
Abah | Oktober 21, 2008 at 8:09 am
Nyaetalah sanaos merbot tetep weh sok sadis ka ucing mah. Padahal sok ngawurukan, “eh barudak. Sing nyaah ka sasatoan. Komo ucing mah, kapan kameumeutna kanjeng Rosul.” Cenah. Ngiring hariwang, sing enggal aya gentosna weh kanggo siteteh tur si adi anu estu pang lalucuna. Wassalam.